Minggu, 24 Januari 2010

Atlet Berprestasi yang Akhirnya Jadi Pegawai Negeri



Aku PNS, Juga Atlet

Sejumlah atlet merasakan kegemilangan ganda. Berprestasi moncer di lapangan, akhirnya mendapat kemudahan dalam mata pencaharian. Salah satunya sebagai pegawai pemerintahan. Di Surabaya, sejumlah atlet merasakan itu.

SALAH satunya adalah Rahadewineta, atlet taekwondo yang puluhan kali menyabet juara di berbagai tingkat kejuaraan itu. Dara 25 tahun tersebut pun menjadi PNS di pemkot Surabaya lantaran prestasi itu.

Wanita yang kini tinggal menunggu SK pengangkatan itu mengawali karir di pemkot begitu lulus dari SMA Negeri Ragunan, sekolah khusus atlet berprestasi, pada 2003.

Selesai sekolah, dia ditawari pengurus KONI Surabaya untuk menjadi pegawai. Neta, panggilannya, dianggap sebagai wanita yang banyak berjasa bagi Surabaya. Awalnya, dia memang tak merespons. Namun, Setiyono, ayahnya, menegaskan tawaran itu. Bahkan, Setiyono sendiri yang menghadap ke wali kota demi status kepegawaian anaknya tersebut.

Awal menjadi pegawai, dia ditugaskan mengurusi surat-surat dan administrasi. ''Awalnya sih agak bingung karena belum pernah kerja di kantor," jelasnya.

Karena masih berstatus atlet, Neta tak bisa bekerja maksimal. Banyak tugas yang tak rampung karena harus ikut pertandingan. Sehingga, dia terpaksa kerap minta izin kalau akan bertanding. Dan dispensasi itu pula yang lebih memacunya untuk menjadi juara. Dia tak mau pulang tanpa prestasi. Sebab, selain membawa nama baik daerah, dia juga membawa beban sebagai pegawai pemkot yang mendapat dispensasi. ''Sudah sudah diangkat sebagai pegawai, diberi dispensasi, kok nggak juara. Kan malu," ucap perempuan berambut lurus itu.

Selama menjadi pegawai pemkot, prestasinya selalu bersinar. Pada 2003 ia pernah meraih juara I pada kejuaraan nasional LG Cup IV di Jakarta, juara II pada PON XVI di Palembang pada 2004, juara I pada women Islamic games di Iran 2005, dan kejuaraan lainnya.

Menurut Neta, menjadi PNS memang dambaan banyak orang. Maka ia merasa sangat beruntung menjadi pegawai di pemkot. Perempuan kelahiran 23 Mei 1984 itu mengatakan, pemberian status PNS itu adalah penghargaan bagi prestasi yang ia raih. Itu bukti bahwa pemkot amat menghargai jasa dan prestasi para atlet. Itu memang sewajarnya dilakukan oleh pemkot. Sebab, para atlet itu berjuang dan bertanding untuk mengharumkan nama Surabaya.

Pemkot juga tidak sembarangan menempatkan para atlet atau mantan atlet di pada sebuah bidang pekerjaan, pemkot menempatkan mereka pada bidang yang sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Yaitu di Dispora (dinas pemuda dan olahraga). ''Itu sangat pas dengan bidang saya," jelasnya. Sebelumnya, Neta memang ditempatkan di bagian umum. Namun, sejak Desember 2009, ia dipindah ke Dispora agar ia berkumpul dengan para atlet lainnya.

Sejatinya, Neta cukup prihatin dengan nasib sejumlah mantan atlet yang sudah pensiun di luar Surabaya. Mereka banyak berjasa dalam mengharumkan nama baik bangsa, namun setelah pensiun hidup mereka susah. Banyak dari mereka yang tidak punya pekerjaan. Sehingga apapun pekerjaan mereka geluti agar bisa menghidupi rumah tangganya. ''Misalnya, ada yang menjadi satpam," jelasnya.

Padahal, saat masih berjaya, para atlet itu dielu-elukan banyak orang. Namun setelah mereka tidak bisa bertanding lagi, tak ada lagi perhatian. Padahal, kata Neta, atlet yang pensiun di luar negeri mendapatkan tunjangan seumur hidup dari pemerintah. Tunjangan itu sebuah penghargaan bagi jasa-jasa mereka.

Sejatinya, menjadi atlet taekwondo bukan keinginan Neta. Namun, sang ayahlah yang mengenalkan olahraga itu.

Sebelum Neta menjadi atlet taekwondo, keempat kakaknya sudah menjadi atlet terlebih dahulu. Mereka juga ikut taekwondo. Tentu, Neta yang mulai berlatih saat umur 9 tahun merasakan beban yang sangat berat. Apalagi, dia berlatih bukan dari keinginannya sendiri. Dia malas berlatih, dan kadang harus beralasan belajar kelompok.

Namun, sang ayah tetap memaksa. ''Berlatih satu jam saja. Belajarnya setelah berlatih," ucap alumnus SMP Praja Mukti itu menirukan permintaan ayahnya. Bahkan, kalau tak mau berlatih, Neta kadang diancam ayahnya. Mulai tak diberi uang saku dan sejumlah dorongan lainnya. Neta sadar, itu semua demi kebaikan dirinya. Doktrin yang diberikan ayahnya pun begitu kuat. Sehingga, dia benar-benar dididik menjadi seorang atlet. Berkat didikan ayahnya, mahasiswi Universitas 17 Agustus 1945 itu tak cuma berprestasi. Tapi, sangat moncer.

Waktu SMP, dia menjadi juara I Kejurnas taekwondo se-Jawa-Bali untuk memperebutkan Marinir Cup di Surabaya pada 1996, juara II Kejurnas Se-Indonesia di Surabaya pada 1998, juara I Kejurda Jawa Timur di Surabaya pada 1997, dan kejuaraan lainnya.

Karena prestasinya itu begitu cemerlang, setelah lulus SMP ia kemudian dimasukkan ke SMA Negeri Ragunan, sekolah untuk para atlet yang berprestasi, pada 1999. Sejak masuk SMA itu, kemantapan untuk menjadi atlet betul-betul tumbuh. Dia benar-benar menekuni dunia atlet atas kemauannya sendiri. Misalnya saat menjuarai Korea Open di Chunchoen pada 2000. Terakhir, dia mengikuti SEA Games XXV di Laos, tahun lalu. Dia merebut perak. Kini, dia bersiap mengikuti Asean Games di Guangzhou pada November 2010. ''KONI sudah mengirimkan surat untuk latihan," jelas Neta.

Menurutnya, menjadi atlet itu ada masanya. Maka ia pun sudah menyiapkan hal itu. Ada masa pensiun. Neta pun akan segera menyelesaikan kuliahnya pada fakultas Psikologi di Untag. Setelah itu dia akan menikah dan menekuni profesi sebagai PNS. ''Menjadi pegawai negeri itu kan menjanjikan. Bisa menjadi sandaran hidup," jelasnya. (lum/dos)



Sumber : http://www.jawapos.com



Baca selengkapnya hasil akhir SEA Games Laos XXV klik di sini...
Poskan Komentar

Agen Allianz di Yogyakarta

hannysuzuki.com