Rabu, 20 Januari 2010

“Mendefinisikan Perguruan Tinggi Idaman”.




Artikel ini dalam rangka memeriahkan Lomba Blog UII (Universitas Islam Indonesia) dengan tema “Mendefinisikan Perguruan Tinggi Idaman”.

Bukan menjadi rahasia lagi bahwa untuk menjadi sebuah Perguruan Tinggi Idaman harus dapat mencetak para mahasiswa menjadi seorang entrepreuner (wirausaha). Kenapa harus menjadi seorang entrepreuner? Karena bangsa Indonesia sudah memiliki ribuan stok mahasiswa yang terpaksa menganggur karena tidak dapat pekerjaan. Untuk itulah fungsi utama dari perguruan tinggi, yaitu membentuk jiwa entrepreunership pada para mahasiswanya. Membentuk jiwa entreupreunership tidak bisa dilakukan secara instant, perlu proses yang panjang untuk belajar. Sikap kreatif, keberanian, dan pantang menyerah harus dimiliki oleh para mahasiswa yang ingin sukses.

Menilai sebuah kampus berpredikat Perguruan Tinggi Terbaik atau Perguruan Tinggi Favorit Indonesia tidak hanya berdasar pada IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) lulusannya, atau diterimanya para lulusan mahasiswanya di berbagai perusahaan besar saja. Tetapi predikat tersebut lebih layak diberikan pada suatu universitas yang mampu melahirkan para wirausahawan baru yang dapat menjadi “pahlawan negara” dalam mengurangi pengurangi pengangguran di Indonesia. Justru itu yang terpenting.

Untuk mewujudkannya, maka perlu dilakukan reformasi kurikulum pada instansi perguruan tinggi. Perguruan tinggi harus berusaha mananamkan sebanyak mungkin tentang entrepreunership. Teori-teori yang hanya bertujuan menjadikan mahasiswa sebagai “karyawan”, harus dialihkan menjadi “bos”.

Bos yang saya maksud adalah bos dalam arti membuat lapangan pekerjaan baru, yang secara tidak langsung akan menurunkan jumlah pengangguran di Indonesia. Bayangkan jika suatu acara wisuda di perguruan tinggi, meluluskan 300 mahasiswa, dan 300 mahasiswa tersebut membuka usaha baru dengan merekrut tenaga kerja sebanyak 2 orang saja. Maka mereka akan menurunkan pengangguran sebanyak 600 orang. Bukankah pantas jika wirausahawan disebut “pahlawan pengangguran?”


Jika mental mahasiswa tidak bisa dirubah, maka mahasiswa yang memiliki title “sarjana” akan dipermalukan oleh pedagang bakso yang mampu mempekerjakan 4 orang karyawan. Pedagang bakso tersebut, jauh lebih terhormat karena mampu mengurangi pengangguran, bukannya menambah jumlah angka pengangguran di Indonesia.



Mahasiswa juga harus dituntut untuk kreatif, jangan seperti katak dalam tempurung. Peribahasa ini tentunya sudah kita dengar ribuan kali sebelumnya. Tapi apakah mahasiswa dapat memaknai sepenuhnya peribahasa ini? Katak dalam tempurung adalah seseorang yang tidak bisa berkembang karena ruang geraknya selalu dibatasi. Apakah seorang mahasiswa seperti katak dalam tempurung? Jawabannya adalah “depend on”, tergantung dari tiap individu yang bersangkutan sendiri, dan tergantung apakah perguruan tinggi tersbut mempunyai kepedulian mengenai entrepreunership.


Fenomena yang berkembang saat ini adalah minat mahasiswa yang kurang untuk menjadi individu yang kreatif. Mahasiswa seperti hanya mementingkan nilai IPK nya saja, dengan selalu menghafal materi dari dosen menjelang ujian, kalau perlu menghafalkannya sampai larut malam, atau berusaha membuat catatan kecil di kertas atau di bagian tubuhnya, agar sewaktu ujian dapat menggunakannya dengan “bijaksana”.

Hal yang paling penting bagi mahasiswa adalah mahasiswa harus kreatif mencari ilmu sendiri, ilmu pengetahuan tidak hanya kita dapat dari staf pengajar, ilmu pengetahuan dapat kita temukan di mana saja, kapan pun dan di mana pun. Mahasiswa yang hebat tidak hanya dinilai dari jumlah IPKnya saja, tetapi bagaimana seorang mahasiswa mau untuk menjadi pribadi yang kreatif. Perlu saya ingatkan sekali lagi bahwa Indonesia sudah banyak memiliki para sarjana-sarjana pandai, tetapi itu masih belum cukup dapat merubah nasib bangsa Indonesia. Jumlah pengangguran di Indonesia sangat memprihatinkan. Menurut saya Indonesia membutuhkan para sarjana yang kreatif, kreatif dalam menuntut ilmu, kreatif dalam menciptakan lapangan pekerjaan, kreatif dalam menghadapi situasi apapun.

Ada sebuah contoh ilustrasi yang menarik, sewaktu terjadi perang dingin persaingan pesawat luar angkasa antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet, para ilmuwan Amerika sedang melakukan penelitian untuk membuat pulpen yang dapat digunakan untuk menulis dalam gravitasi nol (dimana pulpen biasa tidak bisa digunakan karena tintanya tidak bisa turun), mereka menghabiskan dana jutaan dolar untuk penelitian, dan tentunya mereka pasti berhasil, perasaan bangga mungkin melingkupi para ilmuwan Amerika ini. Tapi apa yang dilakukan oleh pesaingnya? Ternyata pesaing ini hanya menggunakan sebuah pensil untuk menulis !!! Bukankah ini sangat ironis, buat apa menghabiskan jutaan dolar kalau kita dapat menggunakan alternatif lain yang lebih efisien. Itulah pentingnya menjadi seorang yang kreatif.

Perguruan Tinggi Idaman dan Perguruan Tinggi Favorit Indonesia, tentunya wajib menjadikan mahasiswanya menjadi pribadi yang kreatif, memiliki keberanian, dan pantang menyerah.

Semoga sukses Universitas Islam Indonesia, mari kita turunkan jumlah pengangguran di Indonesia. Amin.




==hanny==



Poskan Komentar

Agen Allianz di Yogyakarta

hannysuzuki.com