Sabtu, 27 Februari 2010

Mengenal Cedera dan Cara Mengatasinya



Cedera
sering dialami oleh seorang atlet, seperti cedera goresan, robek pada ligamen, atau patah tulangatlit olahraga, tidak terkecuali dengan sindrom ini. Sindrom ini bermula dari adanya suatu kekuatan abnormal dalam level yang rendah atau ringan, namun berlangsung secara berulang-ulang dalam jangka waktu lama. Jenis cedera ini terkadang memberikan respon yang baik bagi pengobatan sendiri. Tak ada yang menyangkal jika olahraga baik untuk kebugaran tubuh dan melindungi kita dari berbagai penyakit. Namun, berolahraga secara berlebihan dan mengabaikan aturan berolahraga yang benar, malah mendatangkan cedera yang membahayakan dirinya sendiri. Aktivitas yang salah ini karena pemanasan tidak memenuhi syarat, kelelahan berlebihan terutama pada otot, dan salah dalam melakukan gerakan olahraga. Kasus cedera yang paling banyak terjadi, biasanya dilakukan para pemula yang biasanya terlalu berambisi menyelesaikan target latihan atau ingin meningkatkan tahap latihan.

Cara yang lebih efektif dalam mengatasi cedera adalah dengan memahami beberapa jenis cedera dan mengenali bagaimana tubuh kita memberikan respon terhadap cedera tersebut. Juga, akan dapat untuk memahami tubuh kita, sehingga dapat mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya cedera, bagaimana mendeteksi suatu cedera agar tidak terjadi parah, bagaimana mengobatinya dan kapan meminta pengobatan secara profesional (memeriksakan diri ke dokter).

Kegiatan olahraga yang sekarang terus dipacu untuk dikembangkan dan ditingkatkan bukan hanya olahraga prestasi atau kompetisi, tetapi olahraga juga untuk kebugaran jasmani secara umum. Kebugaran jasmani tidak hanya punya keuntungan secara pribadi, tetapi juga memberikan keuntungan bagi masyarakat dan negara. Oleh karena itu kegiatan olahraga sekarang ini semakin mendapat perhatian yang luas.

Bersamaan dengan meningkatnya aktivitas keolahragaan tersebut, korban cedera olahraga juga ikut bertambah. Sangat disayangkan jika hanya karena cedera olahraga tersebut para pelaku olahraga sulit meningkatkan atau mempertahankan prestasi.

Cedera Olahraga” adalah rasa sakit yang ditimbulkan karena olahraga, sehingga dapat menimbulkan cacat, luka dan rusak pada otot atau sendi serta bagian lain dari tubuh.

Cedera olahraga jika tidak ditangani dengan cepat dan benar dapat mengakibatkan gangguan atau keterbatasan fisik, baik dalam melakukan aktivitas hidup sehari-hari maupun melakukan aktivitas olahraga yang bersangkutan. Bahkan bagi atlit cedera ini bisa berarti istirahat yang cukup lama dan mungkin harus meninggalkan sama sekali hobi dan profesinya. Oleh sebab itu dalam penaganan cedera olahraga harus dilakukan secara tim yang multidisipliner.

Cedera olahraga dapat digolongkan 2 kelompok besar :
a. Kelompok kerusakan traumatik (traumatic disruption) seperti : lecet, lepuh, memar, leban otot, luka, “stram” otot, “sprain” sendi, dislokasi sendi, patah tulang, trauma kepala-leher-tulang belakang, trauma tulang pinggul, trauma pada dada, trauma pada perut, cedera anggota gerak atas dan bawah.

b. Kelompok “sindroma penggunaan berlebihan” (over use syndromes), yang lebih spesifik yang berhubungan dengan jenis olahraganya, seperti : tenis elbow, golfer’s elbow swimer’s shoulder, jumper’s knee, stress fracture pada tungkai dan kaki.

Macam Cedera Olahraga

Didalam menangani cedera olahraga (sport injury) agar terjadi pemulihan seorang atlit untuk kembali melaksanakan kegiatan dan kalau perlu ke prestasi puncak sebelum cedera. Kita ketahui penyembuhan penyakit atau cedera memerlukan waktu penyembuhan yang secara alamiah tidak akan sama untuk semua alat (organ) atau sistem jaringan ditubuh, selain itu penyembuhan juga tergantung dari derajat kerusakan yang diderita, cepat lambat serta ketepatan penanggulangan secara dini.

Dengan demikian peran seseorang yang berkecimpung dalam kedokteran olahraga perlu bekal pengetahuan mengenai penyembuhan luka serta cara memberikan terapi agar tidak menimbulkan kerusakan yang lebih parah, sehingga penyembuhan serta pemulihan fungsi, alat dan sistem anggota yang cedera dapat dicapai dalam waktu singkat untuk mencapai prestasi kembali, maka latihan untuk pemulihan dan peningkatan prestasi sangat diperlukan untuk mempertahankan kondisi jaringan yang cedera agar tidak terjadi penecilan otot (atropi).
Agar selalu tepat dalam menangani kasus cedera maka sangat diperlukan adanya pengetahuan tentang macam-macam cedera.

Klasifikasi Cedera Olahraga

Secara umum cedera olahraga diklasifikasikan menjadi 3 macam, yaitu :
a. Cedera tingkat 1 (cedera ringan)
Pada cedera ini penderita tidak mengalami keluhan yang serius, namun dapat mengganggu penampilan atlit. Misalnya: lecet, memar, sprain yang ringan.

b. Cedera tingkat 2 (cedera sedang)
Pada cedera tingkat kerusakan jaringan lebih nyata berpengaruh pada performance atlit. Keluhan bias berupa nyeri, bengkak, gangguan fungsi (tanda-tanda inplamasi) misalnya: lebar otot, straing otot, tendon-tendon, robeknya ligament (sprain grade II).

c. Cedera tingkat 3 (cedera berat)
Pada cedera tingkat ini atlit perlu penanganan yang intensif, istirahat total dan mungkin perlu tindakan bedah jika terdapat robekan lengkap atau hamper lengkap ligament (sprain grade III) dan IV atau sprain fracture) atau fracture tulang.

d. Strain dan Sprain
Strain dan sprain adalah kondisi yang sering ditemukan pada cedera olahraga.
1. Strain
Straing adalah menyangkut cedera otot atau tendon. Straing dapat dibagi atas 3 tingkat, yaitu :
a) Tingkat 1 (ringan)
Straing tingkat ini tidak ada robekan hanya terdapat kondisi inflamasi ringan, meskipun tidak ada penurunan kekuatan otot, tetapi pada kondisi tertentu cukup mengganggu atlit. Misalnya straing dari otot hamstring (otot paha belakang) akan mempengaruhi atlit pelari jarak pendek (sprinter), atau pada baseball pitcher yang cukup terganggu dengan strain otot-otot lengan atas meskipun hanya ringan, tetapi dapat menurunkan endurance (daya tahannya).

b) Tingkat 2 (sedang)
Strain pada tingkat 2 ini sudah terdapat kerusakan pada otot atau tendon, sehingga dapat mengurangi kekuatan atlit.

c) Tingkat 3 (berat)
Straing pada tingkat 3 ini sudah terjadi rupture yang lebih hebat sampai komplit, pada tingkat 3 diperlukan tindakan bedah (repair) sampai fisioterapi dan rehabilitasi.

2. Sprain
Sprain adalah cedera yang menyangkut cedera ligament. Sprain dapat dibagi 4 tingkat, yaitu :
a) Tingkat 1 (ringan)
Cedera tingkat 1 ini hanya terjadi robekan pada serat ligament yang terdapat hematom kecil di dalam ligamen dan tidak ada gangguan fungsi.

b) Tingkat 2 (sedang)
Cedera sprain tingkat 2 ini terjadi robekan yang lebih luas, tetapi 50% masih baik. Hal ini sudah terjadi gangguan fungsi, tindakan proteksi harus dilakukan untuk memungkinkan terjadinya kesembuhan. Imobilisasi diperlukan 6-10 minggu untuk benar-benar aman dan mungkin diperlukan waktu 4 bulan. Seringkali terjadi pada atlit memaksakan diri sebelum selesainya waktu pemulihan belum berakhir dan akibatnya akan timbul cedera baru lagi.

c) Tingkat 3 (berat)
Cedera sprain tingkat 3 ini terjadinya robekan total atau lepasnya ligament dari tempat lekatnya dan fungsinya terganggu secara total. Maka sangat penting untuk segera menempatkan kedua ujung robekan secara berdekatan.

d) Tingkat 4 (Sprain fraktur)
Cedera sprain tingkat 4 ini terjadi akibat ligamennya robek dimana tempat lekatnya pada tulang dengan diikuti lepasnya sebagian tulang tersebut.

Penyebab dan Pencegahan pada cedera olahraga
Cedera olahraga perlu diperhatikan terutama bagi para pelatih, guru pendidikan jasmani, maupun pemerhati olahraga khususnya yang mempunyai atlit cedera olahraga. Sekarang hendaknya kita satukan bahasa dahulu bahwa yang paling sental dalam pengelolaan cedera bukanlah tenaga medis tetapi pelatih olahraga, yaitu orang yang paling dekat dengan atlit. Sebaik apapun tim medis disiapkan akan kalah dibandingkan dengan kita menyiapkan para pelatih olahraga yang tahu tentang olahraga.

Pulih tidaknya cedera sebagian besar tergantung tindakan pertama pada saat cedera. Cedera ringan tidak kalah berbahayanya dari cedera berat terhadap masa depan atlit. Dalam rangka persiapan menghadapi suatu event. Mengistirahatkan atlit boleh dikatakan mustahil karena waktu yang tersedia selalu terbatas. Disinilah muncul seni yang tinggi tentang pengelolaan atlit yang cedera.

Pelatih harus menyadari bahwa tiap olahraga mempunyai kecenderungan cedera yang berbeda. Sebagai pelatih, guru pendidikan jasmani haruslah mengetahui cara pencegahan ataupun pertolongan pertama secara benar. Banyak sekali penyebab-penyebab cedera olahraga yang perlu diperhatikan, sehingga para atlit dapat menepis atau menghindari kecenderungan untuk cedera olahraga.


Penyebab Cedera Olahraga
Beberapa faktor penting yang ada perlu diperhatikan sebagai penyebab cedara olahraga.
1. Faktor olahragawan/olahragawati
a. Umur
Faktor umur sangat menentukan karena mempengaruhi kekuatan serta kekenyalan jaringan. Misalnya pada umur 30-40 tahun raluman kekuatan otot akan relative menurun. Elastisitas tendon dan ligament menurun pada usia 30 tahun. Kegiatan-kegiatan fisik mencapai puncaknya pada usia 20-40 tahun.

b. Faktor pribadi
Kematangan (motoritas) seorang olahraga akan lebih mudah dan lebih sering mengalami cedera dibandingkan dengan olahragawan yang sudah berpengalaman.

c. Pengalaman
Bagi atlit yang baru terjun akan lebih mudah terkena cedera dibandingkan dengan olahragawan atau atlit yang sudah berpengalaman.

d. Tingkat latihan
Betapa penting peran latihan yaitu pemberian awal dasar latihan fisik untuk menghindari terjadinya cedera, namun sebaliknya latihan yang terlalu berlebihan bias mengakibatkan cedera karena “over use”.

e. Teknik
Perlu diciptakan teknik yang benar untuk menghindari cedera. Dalam melakukan teknik yang salah maka akan menyebabkan cedera.

f. Kemampuan awal (warming up)
Kecenderungan tinggi apabila tidak dilakukan dengan pemanasan, sehingga terhindar dari cedera yang tidak di inginkan. Misalnya : terjadi sprain, strain ataupun rupture tendon dan lain-lain.

g. Recovery period
Memberi waktu istirahat pada organ-organ tubuh termasuk sistem musculoskeletal setelah dipergunakan untuk bermain perlu untuk recovery (pulih awal) dimana kondisi organ-organ itu menjadi prima lagi, dengan demikaian kemungkinan terjadinya cedera bisa dihindari.

h. Kondisi tubuh yang “fit”
Kondisi yang kurang sehat sebaiknya jangan dipaksakan untuk berolahrag, karena kondisi semua jaringan dipengaruhi sehingga mempercepat atau mempermudah terjadinya cedera.

i. Keseimbangan Nutrisi
Keseimbangan nutrisi baik berupa kalori, cairan, vitamin yang cukup untuk kebutuhan tubuh yang sehat.

j. Hal-hal yang umum
Tidur untuk istirahat yang cukup, hindari minuman beralkohol, rokok dan yang lain.

2. Peralatan dan Fasilitas
Peralatan : bila kurang atau tidak memadai, design yang jelek dan kurang baik akan mudah terjadinya cedera.

Fasilitas : kemungkinan alat-alat proteksi badan, jenis olahraga yang bersifat body contack, serta jenis olahraga yang khusus.

3. Faktor karakter dari pada olahraga tersebut
Masing-masing cabang olahrag mempunyai tujuan tertentu. Missal olahraga yang kompetitif biasanya mengundang cedera olahraga dan sebagainya, ini semua harus diketahui sebelumnya.

Pencegahan Cedera
Mencegah lebih baik daripada mengobati, hal ini tetap merupakan kaidah yang harus dipegang teguh. Banyak cara pencegahan tampaknya biasa-biasa saja, tetapi masing-masing tetaplah memiliki kekhususan yang perlu diperhatikan.
1. Pencegahan lewat keterampilan
Pencegahan lewat keterampilan mempunyai andil yang besar dalam pencegahan cedera itu telah terbukti, karena penyiapan atlit dan resikonya harus dipikirkan lebih awal. Untuk itu para atlit sangat perlu ditumbuhkan kemampuan untuk bersikap wjar atau relaks. Dalam meningkatkan atlit tidak cukup keterampilan tentang kemampuan fisik saja namun termasuk daya pikir, membaca situasi, mengetahui bahaya yang bisa terjadi dan mengurangi resiko. Pelatih juga harus mampu mengenali tanda-tanda kelelahan pada atlitnya, serta harus dapt mengurangi dosis latihan sebelum resiko cedar timbul.
a) Mengurangnya antusiasme atau kurang tanggap
b) Kulit dan otot terasa mengembang
c) Kehilangan selera makan
d) Gangguan tidur, sampai bangun masih terasa lelah
e) Meningkatnya frekuensi jantung saat istirahat
f) Penurunan berat badan
g) Melambatnya pemulihan
h) Cenderung menghindari latihan atau pertandingan

2. Pencegahan lewat Fitness
Fitness secara terus menerus mampu mencegah cedera pada atlit baik cedera otot, sendi dan tendo, serta mampu bertahan untuk pertandingan lebih lama tanpa kelelahan.
a. Strength
Otot lebih kuat jika dilatih, beban waktu latihan yang cukup sesuai nomor yang diinginkan untuk. Untuk latihan sifatnya individual, otot yang dilatih benar-benar tidak mudah cedera.

b. Daya tahan
Daya tahan meliputi endurance otot, paru dan jantung. Daya tahan yang baik berarti tidak cepat lelah, karena kelelahan mengundang cedera.

c. Pencegahan lewat makanan
Nutrisi yang baik akan mempunyai andil mencegah cedera karena memperbaiki proses pemulihan kesegaran diantara latihan-latihan.
Makan harus memenuhi tuntutan gizi yang dibutuhkan atlit sehubungan dengan latihannya.
Atlit harus makan-makanan yang mudah dicerna dan yang berenergi tinggi kira-kira 2,5 jam sebelum latihan atau pertandingan.
Pencegahan lewat Warming up ada 3 alasan kenapa warm up harus dilakukan :
• Untuk melenturkan (stretching) otot, tendon dan ligament utama yang akan dipakai.
• Untuk menaikkan suhu terutama bagian dalam seperti otot dan sendi.
• Untuk menyiapkan atlit secara fisik dan mental menghadapi tugasnya.

d. Pencegahan lewat lingkungan
Banyak terjadi bahwa cedera karena lingkungan. Seorang atlit jatuh karena tersandung sesuatu (tas, peralatan yang tidak ditaruh secara baik) dan cedera. Harusnya memperhatikan peralatan dan barang ditaruh secara benar agar tidak membahayakan.

e. Peralatan
Peralatan yang standar punya peranan penting dalam mencegah cedera. Kerusakan alat sering menjadi penyebab cedera pula, contoh yang sederhana adalah penggunaan pelindung tangan kaki yang tidak layak pakai dalam Taekwondo, berakibat tidak maksimalnya pelindung tersebut dalam meredam impact akibat benturan.

f. Medan
Medan dalam menggunakan latihan atau pertandingan mungkin dari alam, buatan atau sintetik, keduanya menimbulkan masalah. Alam dapat selalu berubah-ubah karena iklim, sedang sintetik yang telah banyak dipakai juga dapat rusak. Yang terpenting atlit mampu menghalau dan mengantisipasi hal-hal penyebab cedera.

g. Pencegahan lewat pakaian
Pakaian sangat tergantung selera tetapi haruslah dipilih dengan benar, seperti kaos, celana, kaos kaki, perlu mendapat perhatian. Misalnya celana jika terlalu ketat dan tidak elastis maka dalam melakukan gerakan juga tidak bebas. Khususnya atletik, sehingga menyebabkan lecet-lecet pada daerah selakangan dan bahkan akan mempengaruhi penampilan atlit.

h. Pencegahan lewat pertolongan
Setiap cedera memberi tiap kemungkinan untuk cedera lagi yang sama atau yang lebih berat lagi. Masalahnya ada kelemahan otot yang berakibat kurang stabil atau kelainan anatomi, ketidakstabilan tersebut penyebab cedera berikutnya. Dengan demikian dalam menangani atau pemberian pertolongan harus kondisi benar dan rehabilitasi yang tepat pula.

i. Implikasi terhadap pelatih
Sikap tanggung jawab dan sportifitas dari pelatih, official, tenaga kesehatan dan atlitnya sendiri secara bersama-sama. Yakinkan bahwa atlitnya memang siap untuk tampil, bila tidak janganlah mencoba-coba untuk ditampilkan dari pada mengundang permasalahan. Sebagai pelatih juga perlu memikirkan masa depan atlit merupakan faktor yang lebih penting.

Perawatan dan Pengobatan cedera olahraga Dalam melakukan perawatan dan pengobatan cedera olahraga terlebih dahulu mengetahui dan apa yang harus dikerjakan. Terdapat pendarahan tidak, fruktur tulang (patah tulang) dan sebagainya, atau mungkin terjadi kerusakan pembuluh darah kecil atau besar (pendarahan dibawah kulit) di daerah itu. Bila ini terjadi akan ada warna ungu, nyeri dan bengkak.

Penanganan pendarahan
Penanganan cedera dinilai lewat tingkatan cedera berdasarkan adanya pendarahan lokal.
1. Akut (0-24 jam)
Terjadi cedera antara saat kejadian sampai proses pendarahan berhenti, biasanya samapai 24 jam. Dalam pertolongan yang benar dapat mempersingkat periode ini.

2. Sub-Akut (24-48 jam)
Pada saat masa akut telah berakhir, pendarahan telah berhenti, tetapi bisa berdarah kembali. Bila pertolongan tidak benar dapat kembali ke tingkat akut dan berdarah kembali.

3. Tingkat lanjut (48 jam sampai lebih)
Pendarahan telah berhenti, dan kecil kemungkinan kembali ke tingkat akut, pada saat ini penyembuhan telah mulai. Dengan pertolongan yang baikmasa ini dapat mempersingkat. Pelatih harus sangat mahir dalam hal ini agar tahu kapan harus meminta pertolongan dokter.

Penanganan pertama
Pulihnya atlit dan mampu aktif kembali sangat tergantung dari keputusan yang dibuat saat terjadi cedera, serta pertolongan yang diberikan. Bila dokter tidak ada, maka terpaksa pelatih harus memutuskan sendiri, keadaan ini paling banyak berlaku.

Pelatih harus mampu memutuskan apakah atlit terus atau berhenti, untuk cedera yang berat keputusannya sangat mudah diambil, tetapi untuk cedera yang ringan keputusannya menjadi sangat sulit. Bila ragu istirahatkan atlit anda, pelatih sebaiknya mampu melakukan pemeriksaan praktis fungsional dilapangan.

Penanganan rehabilitasi medik
Pada terjadinya cedera olahraga upaya rehabilitasi medik yang sering digunakan adalah :
1. Pelayanan spesialistik rehabilitasi medik
2. Pelayanan fisioterapi
3. Pelayanan alat bantu (ortesa)
4. Pelayananpengganti tubuh (protesa)

Penanganan rehabilitasi medik harus sesuai dengan kondisi cedera.
a. Penanganan rehabilitasi medik pada cedera olahraga akut.
Cedera akut ini terjadi dalam waktu 0-24 jam. Yang paling penting adalah penangananya. Pertama adalah evaluasi awal tentang keadaan umum penderita, untuk menentukan apakah ada keadaan yang mengancam kelangsungan hidupnya. Bila ada tindakan pertama harus berupa penyelamatan jiwa. Setelah diketahui tidak ada hal yang membahayakan jiwa atau hal tersebut telah teratasi maka dilanjutkan upaya yang terkenal yaitu RICE :
R – Rest : diistirahatkan adalah tindakan pertolongan pertama yang esensial penting untuk mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut.

I – Ice : terapi dingin, gunanya mengurangi pendarahan dan meredakan rasa nyeri.

C – Compression : penekanan atau balut tekan gunanya membantu mengurangi pembengkakan jaringan dan pendarahan lebih lanjut.

E – Elevatin : peninggian daerah cedera gunanya mencegah statis, mengurangi edema (pembengkakan) dan rasa nyeri.

b. Penanganan rehabilitasi pada cedera olahraga lanjut
Pada masa ini rehabilitasi tergantung pada problem yang ada antara lain berupa :
• Pemberian modalitas terapi fisik
Terapi dingin :
Cara pemberian terapi dingin sebagai berikut :
1. Kompress dingin
Teknik : potongan es dimasukkan dalam kantong yang tidak tembus air lalu kompreskan pada bagian yang cedera.
Lamanya : 20-30 menit dengan interval kira-kira 10 menit.

2. Masase es
Tekniknya dengan menggosok-gosokkan es yang telah dibungkus dengan lama 5-7 menit, dapat diulang dengan tenggang waktu 10 menit.

3. Pencelupan atau peredaman
Tekniknya yaitu memasukkan tubuh atau bagian tubuh kedalam bak air dingin yang dicampur dengan es. Lamanya 10-20 menit.

4. Semprot dingin
Tekniknya dengan menyemprotkan kloretil atau fluorimethane kebagian tubuh yang cedera.

Terapi panas :
Pada umumnya toleransi yang baik pada terapi panas adalah bila diberikan pada fase sub akut dan kronis dari suatu cedera, tetapi panas juga dapat diberikan pada keadaan akut. Panas yang kita berikan ketubuh akan masuk atau berpenetrasi kedalamnya.

Terapi air (Hydroterapy)
Pada sebagian kasus pemberian terapi air akan banyak menolong. Terapi air dipilih karena adanya efek daya apung dan efek pembersihan. Jenis terapi ini dapat kita berikan dengan memakai bak atau kolam air. Teknik lain terapi air adalah “contrast bath” yaitu dengan menggunakan dua buah bejana. Satu buah diisi air hangat suhu 40,5-43,3 C dan satunya lagi diisi air dingin dengan suhu 10-15 C. anggota gerak yang cedera bergantian masuk ke bejana secara bergantian dengan jarak waktu.

Perangsangan listrik
Perangsangan listrik mempunyai efek pada otot yang normal maupun otot yang denervasi. Efek rangsangan listrik pada otot normal antara lain relaksasi otot spasme, re-edukasi otot, mengurangi spastisitas dan mencegah terjadinya trombloflebitis. Sedang pada otot denervasi efeknya meliputi menunda progrese atropi otot, memperbaiki sirkulasi darah dan nutrisi.

Masase
Dengan menggunakan masase yang lembut dan ringan, kurang lebih satu minggu setelah trauma mungkin akan dapat mengatasi rasa nyeri tersebut. Dengan syarat diberikan dengan betul dan dengan dasar ilmiah akan efektif untuk mengurangi bengkak dan kekakuan otot.

• Pemberian terapi latihan
Waktu untuk memulai terapi latihan tergantung pada macam dan derajat cederanya. Pada cedera otot misalnya terjadi kerusakan atau robekan serabut otot bagian central memerlukan waktu pemulihan 3 kali lebih lama dibandingkan dengan robeknya otot bagian perifer. Sedangkan cedera tulang, persendian (ligament) memerlukan waktu yang lebih lama.
Terapi latihan yang dapat diberikan, berupa :
1. Latihan luas gerak sendi
2. Latihan peregangan
3. Latihan daya tahan
4. Latihan yang spesifik (untuk masing-masing bagian tubuh)

• Pemberian ortesa (alat Bantu tubuh)
Pada terjadinya cedera olahraga yang akut ortesa terutama berfungsi untuk mengistirahatkan bagian tubuh yang cedera, sehingga membantu mempercepat proses penyembuhan dan melindungi dari cedera ulangan. Pada fase berikutnya ortesa dapat berfungsi lebih banyak, antara lain : ortesa leher, dan support pada anggota gerak bawah. Mencegah terjadinya deformitas dan meningkatkan fungsi anggota gerak yang terganggu.

• Pemberian protesa (pengganti tubuh)
Protesa adalah suatu alat Bantu yang diberikan pada atlit yang mengalami cedera dan mengalami kehilangan sebagian anggota geraknya. Fungsi dari alat ini adalah untuk menggantikan bagian tubuh yang hilang akibat dari cedera tersebut.




Dikutip dari:

Paul M. Taylor, dkk. (2002). Mencegah dan Mengatasi Cedera Olahraga. Jakarta: PT. RAJAGRAFINDO PERSADA.

Andun Sujidandoko. (2000). Perawatan dan Pencegahan Cedera. Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional .

http://surya.co.id/web/index.php?option=com_content&task=view&id=14557




Selasa, 23 Februari 2010

Tips Menjadi Atlet Profesional



Jika sudah memutuskan untuk menjadi seorang atlet, maka totalitas dan profesionalitas wajib dipenuhi, dan tidak boleh ditawar. Di bawah ini ada sedikit tips menjadi atlet professional untuk Anda:

1. Wajib latihan rutin baik di dojang atau di rumah.
Tidak ada istilah “malas”, harus terus berlatih dan berlatih, ingat bahwa di atas langit masih ada langit, jadi jangan pernah berpuas diri.

2. Pandai membagi waktu.
Karena jadwal latihan yang padat, maka kita harus pandai dalam membagi waktu antara latihan, studi, refreshing, keluarga, dll. Jangan sampai salah satu terabaikan.

3. Disiplin
Disiplin dalam mengatur pola makan dan gaya hidup sehari-hari. Tidur malam jangan sampai lebih dari jam 10 malam, agar kondisi fisik tetap terjaga, tidak merokok, dan minum minuman keras.

4. Menjaga pergaulan
Pergaulan yang buruk dapat merusak kebiasaan yang baik, pengaruh pergaulan yang buruk dapat menular pada kita, jadi selektiflah dalam memilih teman. Bukan berarti kita menjauhi, sekadar “say hello” saja sudah cukup.

5. Rendah hati
Jangan malu untuk bertanya pada siapapun, jangan gengsi untuk bertanya. Ciri-ciri orang yang rendah hati, salah satunya adalah memiliki keinginan untuk terus belajar. Dan jangan ragu untuk meminta saran dari orang lain mengenai kemampuan kita.

6. Pantang menyerah
Kegagalan bukan suatu akhir dari perjuangan, kegagalan merupakan batu loncatan untuk kita untuk menjadi semakin lebih baik lagi. Tiap pertandingan ada yang menang dan ada pula yang kalah, tidak mungkin semuanya naik podium kan? Kalah menang adalah hal yang wajar. Yang terpenting adalah kita harus maksimal dan sudah berusaha mengalahkan diri sendiri terlebih dahulu.

7. Jangan lupa berdoa dan beribadah
Poin yang satu ini wajib dilakukan sebelum kita melakukan poin 1 di atas. Tuhan lah yang mengatur hasil usaha kita, baik itu berhasil atau gagal, itu semata-mata demi kebaikan kita. Mendekatkan diri pada Tuhan, mampu melawan rasa cemas dan takut kita, tidak ada atlet jagoan tanpa campur tangan Tuhan, beribadah dan berdoa menunjukkan bahwa kita rendah hati dan membutuhkan pertolongan dari Tuhan.

Demikian sedikit tips menjadi atlet professional, jika ada yang kurang, mohon ditambahkan di kotak komentar. Klik “Poskan Komentar”, isi nama, alamat email, dan website. Jika alamat website tidak ada, dikosongkan saja. Terimakasih.



Salam Taekwondoin




==hanny==

Minggu, 21 Februari 2010

Tips Menghadapi Kegagalan untuk Atlet Taekwondoin




Setiap
atlet pasti pernah mengalami kegagalan. Kegagalan merupakan momok yang sangat menakutkan bagi kebanyakan atlet. Seperti gagal menjadi juara, gagal mencapai hasil yang diharapkan, dll. Terpulang dari "mindset" dan cara pandang kita terhadap kegagalan, apakah kita mampu memposisikan kegagalan itu sebagai hal yang wajar dan lumrah, bahwa di setiap usaha dan perjuangan pasti ditunggu dua hal penting, yaitu : berhasil atau gagal, tidak sedikit orang yang menarik kesimpulan bahwa bila sudah mengalami kegagalan, ya gagallah untuk selamanya, hingga akhirnya dia terduduk putus asa, berhenti berjuang dan menyerah, dan orang - orang yang selalu optimis memandang kegagalan itu sebagai hal yang wajar terjadi, dan saat dia melihat orang lain berhenti berusaha karena gagal. dia tetap maju berjuang dengan keyakinan bahwa kegagalan yang dialami hanyalah ketertundaan dari keberhasilan yang sedang dia kejar.

Kegagalan menjadi guru terbaik dalam upaya membenahi diri agar terdata berbagai poin - poin penting mana yang perlu diperbaiki, dan mana yang tidak boleh terulang lagi, demi makin lancarnya perjalanan menuju keberhasilan, introspeksi lah yg kita lakukan hingga bisa mengakui bahwa kegagalan itu sudah wajar terjadi dengan berbagai alasan dan penyebab yang kita peroleh setelah melakukan introspeksi tadi, untuk selanjutnya kita berusaha dan berjuang lagi dengan strategi yang lebih baik dari sebelumnya, bagaimanapun, dampak psikologis akibat mengalami kegagalan tergantung dari cara pandang terhadap kegagalan itu sendiri, bila memang berhenti berusaha setelah mengalami kegagalan, maka dimungkinkan dia akan traumatis seumur hidup,
sebaliknya, bagi orang - orang yang berjiwa besar, maka kegagalan akan merupakan guru terbaik sekaligus menjadi cambuk dan motor penggerak untuk mengejar cita - cita atau keberhasilan, dan bagi orang - orang yang memiliki cara pandang seperti ini, mereka menganggap bahwa kegagalan hanyalah suatu keberhasilan yang tertunda.

Dan hanya orang - orang yang selalu ber "positive thinking" yang mempu mempolapikirkan bahwa kegagalan hanyalah suatu keberhasilan yang tertunda,

" the POSITIVE THINKER sees THE INVISIBLE, feels the INTANGIBLE and ACHIEVES the IMPOSSIBLE"

Berikut ini bebarapa tips mengatasi perasaan gagal :
1. Tetapkan tindakan anda.
Dalam keadaan apapun, anda tetap bisa memilih tindakan. Saat gagal anda bisa memilih untuk ambruk, berteriak atau mengubah kebiasaan lama dan mencari jalan untuk mengatasi masalah yang tengah anda hadapi.

2. Bersikap lebih fleksibel.
Kehidupan tidak selalu seperti yang diharapkan. Apabila anda dapat menyesuaikan diri dengan situasi, maka ketegangan anda akan berkurang.

3. Kembangkan tindakan yang kreatif.
Tanyakan pada diri sendiri "kesempatan apa bagi saya di sini?. Jalan yang mana yang akan terbuka bagi saya?"

4. Evaluasi setiap situasi.
Pikirkan segala tindakan sebelum bertindak, agar bisa didapatkan pemecahan masalah yang terbaik. Evaluasilah mengenai usahamu selama ini, apa yang perlu dirubah.

6. Lihat sisi positif.
Kegagalan memang merupakan pengalaman yang menyakitkan. Tetapi daripada memikirkan kerugian yang anda alami, lebih baik fokuskan pada apa yang telah anda pelajari.

7. Bertanggung jawab.
Jangan salahkan orang lain jika gagal, tapi perhatikan baik-baik masalahnya dan cobalah memahaminya. Tanyakan pada diri anda bagaimana cara mengatasinya?.

8. Jaga keseimbangan.
Kegagalan dapat mempengaruhi kita secara emosional, yang berdampak terhadap tindakan kita. Karena itu, sebelum dihadang kegagalan, mulailah berlatih untuk saling membantu dengan teman.

9. Pelihara selera humor.
Humor dan tertawa memang tidak segera memecahkan masalah, tetapi akan membantu kita melihat masalah secara perspektif. Hal itu bagaikan cahaya dalam kegelapan.


Jangan menyerah,
Salam taekwondoin



=dari berbagai sumber=

Selasa, 16 Februari 2010

Apa yang Terjadi Saat Kita di Matras?





Yang akan terjadi saat kita di matras saat kejuaraan adalah :
-Kita akan memperoleh semua hasil jerih payah latihan kita, maksimal tidaknya latihan kita akan terlihat di sana

-Kita akan belajar mengatasi rasa takut kita, merasakan nikmatnya saat detak jantuk meningkat, tapi tenang, semua orang merasakan hal yang sama, pecundang dan juara merasakan rasa takut yang sama

-Gelar apapun tidak akan bermanfaat saat kita sudah berada di matras, semuanya sama, yang berkualitaslah yang akan menang, gelar juara apapun tidak akan membantu apapun

-Akan ada dua pilihan, mundur, atau tetap melanjutkan pertandingan. Pilihan kedua adalah pilihan terbaik, mengikuti pertandingan bukan soal kalah menang, tapi berkaitan dengan berhasil tidaknya menyelesaikan pertandingan hingga saat ronde ketiga berakhir

-Kita akan semakin menyadari bahwa kita membutuhkan Tuhan



==hanny==

Kamis, 11 Februari 2010

Prosedur Pertandingan Poomsae






1. Pemanggilan Kontestan
Nama kontestan dipanggil sebanyak 3 kali dimulai 3 menit menjelang jadwal pertandingannya. Kontestan yang tidak muncul setelah 1 menit dari jadwal mulai pertandingan dianggap mengundurkan diri.

2. Pemeriksaan fisik dan perlengkapan
Setelah pemanggilan pertama, kontestan harus segera mendatangi “Inspection Desk” untuk menjalani pemeriksaan fisik dan kostum oleh petugas yang ditunjuk WTF. Kontestan tidak boleh menunjukkan sikap menolak atau menghindar untuk diperiksa, dan kontestan dilarang memakai barang-barang yang kemungkinan dapat membahayakan kontestan lawannya.

3. Setelah menjalani pemeriksaan, kontestan harus bersiap di tempat penantian dengan seorang coach, menunggu panggilan memasuki “Contest Area”.

4. Prosedur memulai dan mengakhiri pertandingan:

-Kontestan memasuki Contest Area saat Competition Coordinator memberi aba-aba “Chul-jeon

- Kontestan mulai saat Competition Coordinator memberi aba-aba “Joon-bi” dan “Shi-jak

- Setelah selesai Poomsae, kontestan berbalik, berdiri tegak, dan memberi hormat secara berurutan saat Competition Coordinator memberi aba-aba : “Bah-ro”, “Char-yeot”,“Kyeong-rye”. Lalu tetap berdiri menunggu instruksi/pengumuman Competition Coordinator.

-Referee menyatakan pemenangnya berdasarkan nilai.

-Kontestan meninggalkan Contest Area saat Competition Coordinator memberi aba-aba “Tue-jang


*(penjelasan)
Dalam system eliminasi langsung, dua kontestan (2 tim) memasuki Contest Area, dan telah melakukan penghormatan, tim merah meninggalkan Contest Area dan tim biru melaksanakan Poomsae nya terlebih dahulu.

*Kronologi Peraturan Pertandingan Poomsae Taekwondo
Pertama dibuat : 23 September 2003
Direvisi : 12 April 2005
Direvisi : 25 Juli 2006




Sumber : WTF Competition Rules & Interpretation, Diklat Pelatih Poomsae Tingkat Daerah Yogyakarta 2010

Selasa, 09 Februari 2010

Hasil Uji Tanding Lawan Taekwondoin Korsel




Siska
Selamatkan Muka Jabar


Taekwondoin Jabar asal Kab. Bandung, Siska Permata Sari berhasil mematahkan dominasi taekwondoin Korea Selatan, saat melakukan latih tanding di GOR Tri Lomba Juang, Jln. Pajajaran Bandung, Jumat (5/2). Atlet peraih medali emas PON Kalimantan Timur ini mengalahkan Yoo Su Jeong dengan skor 3-2. Kemenangan tersebut menjadi kemenangan tunggal yang berhasil diraih tim Jabar.

Wakil Gubernur Jabar, Dede Yusuf, yang juga menyaksikan secara langsung uji tanding ini mengatakan, taekwondoin Korea memiliki jam terbang lebih tinggi. Menurutnya para taekwondoin asal Korea tersebut merupakan atlet profesional.

"Untuk bisa menyaingi mereka, jelas atlet kita harus menambah jam terbang. Sebenarnya atlet kita memiliki potensi yang cukup besar, mereka mampu menampilkan teknik yang cukup bagus," kata Dede.

Dijelaskannya, untuk menambah jam terbang tersebut para tekwondoin Jabar harus sering melakukan uji tanding dengan daerah lain di Indonesia.

"Saya yakin atlet kita ini kualitasnya sama dengan atlet Korea. Mereka hanya kurang memiliki mental yang kuat. Mental kuat tersebut akan mereka dapatkan apabila memiliki jam terbang yang lebih banyak," tandasnya.

Dede juga menegaskan tidak didukung sarana latihan bukan merupakan alasan utama dari kekalahan uji tanding ini. Yang paling penting adalah bibit yang berpotensi dan fisik yang baik.

"Mungkin akan lebih baik lagi apabila Jabar memiliki atlet taekwondo yang mempunyai fisik yang baik. Sarana dan prasarana mungkin bisa dijadikan sebagai skala prioritas, tapi bukan itu satu-satunya alasan," katanya.

Ketua Umum Pengda Taekwondo Indonesia (TI) Jabar, Imam Rusli membenarkan alasan frekuensi latihan sebagai penyebab utama kekalahan taekwondoin Jabar. Sehingga, lanjutnya, salah satu jalan keluarnya adalah memiliki skala latihan jangka panjang.

"Persahabatan dengan Korea akan terus berlangsung setelah ini. Bulan Juli mendatang tim Jabar diundang ke Korea untuk mengikuti kejuaraan terbuka bertaraf internasional selama satu bulan," katanya.

Sementara itu, pelatih taekwondo asal Korea untuk Indonesia, Oh Il Nam mengatakan kualitas tim Jabar saat ini makin menurun dibanding lima tahun lalu. Para taekwondoin, lanjutnya, harus lebih sering mendapatkan pembinaan.

"Tim Jabar harus lebih sering mengadakan pembinaan kepada atlet junior, karena tanpa ada junior, senior tidak akan ada. Selain itu, Jabar juga harus meningkatkan kualitas para pelatih. Pelatih yang baik akan menghasilkan atlet yang baik, jadi yang perlu dibenahi adalah pelatihnya dulu," tandasnya. (B.110/ mel.job)**

Sumber : http://www.klik-galamedia.com

Sabtu, 06 Februari 2010

Kriteria Penilaian Kejuaraan Poomsae



Kriteria penilaian kejuaraan poomsae adalah :
1 Accuracy, meliputi :
- Accuracy gerakan dasar
- Detail dari setiap poomsae

2. Presentasi, meliputi :
- Skill:
a. Range of movements (lintasan gerakan)
b. Balance (kestabilan)
c. Speed & Power (kecepatan dan tenaga)

-Expression, meliputi :
a. Strenght/speed/rhtym (kekuatan ,kecepatan, dan ritme)
b. Expression of energy (penjiwaan dan sikap penampilan lainnya)

Metode penilaian
1. Poin total adalah 10,0

2. Accuracy
- nilai awal adalah 5,0
- setiap kontestan melakukan kesalahan minor (kecil) nilainya dikurangi 0,1 poin.
- setiap kontestan melakukan kesalahan major (besar) nilainya dikurangi 0,5 poin

3. Presentation
-Nilai awal adalah 5,0
-Kontestan akan dinilai presentasinya secara menyeluruh untuk kelima aspek skill & expression, lalu dimasukkan nilai masing-masing aspek oleh wasit untuk mendapatkan nilai total presentation.

4. Pengurangan poin (oleh recorder)
-Kontestan yang melakukan Poomsaenya melebihi batas waktu 2 menit akan dikurangi 0,5 poin dari nilai terakhirnya.
-Kontestan yang melewati garis batas (boundary line) akan dikurangi 0,5 poin dari nilai terakhirnya.

5. Perhitungan nilai
-Kedua nilai Accuracy & Presentation dilihat.
-Nilai tertinggi dan terendah dari para wasit (untuk setiap kategori) diabaikan, lalu nilai yang tersisa dirata-ratakan dan dijumlah (Accuracy+Presentation) untuk mendapatkan nilai akhir.
-Bila terdapat penalty dan pengurangan poin, maka akan dikurangi dari nilai akhir tersebut.

Keputusan dan Pengumuman Pemenang
1.Juaranya adalah kontestan yang mendapat total nilai tertinggi.

2.Bila terjadi nilai seri, maka pemenangnya ditentukan oleh nilai Presentation yang lebih tinggi.

3.Bila nilai semuanya (Accuracy& Presentation) seri, maka akan dilaksanakan pertandingan ulang (rematch) untuk menentukan pemenangnya, dan referee akan menentukan satu (1) Poomsae wajib yang harus diperagakan/dipertandingkan. Nilai sebelumnya tidak diperhitungkan lagi dalam rematch.

4. Bila setelah rematch masih terjadi nilai seri (Accuracy&Presentation) maka nilai tertinggi dan terendah yang sebelumnya diabaikan akan diperhitungkan dalam penjumlahan total nilai untuk menentukan pemenangnya.

5. Keputusan pemenang:
-menang dengan perolehan nilai (berdasarkan total nilai yang lebih tinggi)

-menang karena Referee Stop Contest/RSC (menghentikan pertandingan karena referee atau Commision Doctor memutuskan bahwa kontestan tidak dapat melanjutkan setelah diberikan waktu pemulihan selama 1 menit atau kontestan menolak/mengabaikan instruksi referee untuk melanjutkan pertandingan.

-menang karena kontestan lawan mengundurkan diri (withdrawal) , kontestan mengundurkan diri karena cedera atau alasan lain, atau coach melemparkan handuk ke tengah arena sebagai tanda menyerah.

-menang karena kontestan lain terkena diskualifikasi

-menang karena kontestan lawan dinyatakan kalah karena penalty, terkena akumulasi 2 gan jeum




Daripada copy paste, mending download, gratis klik di sini…





sumber : Diklat Pelatih Poomsae Tingkat Daerah Yogyakarta 2010

hannysuzuki.com