Kamis, 17 Juni 2010

Olahraga, Ukurannya Bukan Keringat




Rumusan yang perlu diperhitungkan saat olahraga adalah denyut jantung (heart rate). Maximal heart rate (MHR) atau denyut jantung maksimal dihitung dari rumus 220-usia. Jadi bila seseorang berusia 20 tahun, denyut jantung maksimal 200.

Angka 220 ini, menurut Arief Rachman Putra, Rapid Result Trainer Development Coach Celebrity Fitness, diambil dari denyut nadi tercepat, yaitu 220 detak per menit. Jika denyut jantung melebihi angka itu, pembuluh darah bisa pecah dan orang dapat meninggal.

Angka 220-usia itu, ditambahkan Ade Rai, merupakan acuan atau parameter terhadap latihan kardio. "Jadi yang diukur bukan banyaknya keringat yang keluar, melainkan detak jantung," kata Ade.

Kalau tujuannya membakar lemak, latihan kardio diupayakan 60-80 persen dari denyut jantung maksimal. Contohnya, orang usia 20 tahun, denyut jantungnya antara 120-160 detak per menit.

"Kondisinya tidak boleh terlalu dan tak boleh tidak capek. Kalau kurang dari 60 persen, berarti tidak capek. Latihan tidak optimal. Pembakaran yang terjadi pun bukan pembakaran lemak," ungkap Ade.

Ada yang beranggapan bahwa latihan kardio selama 1-3 jam akan membakar lemak lebih banyak karena denyut jantung lebih dari 80 persen MHR. Hal ini, kata Ade, adalah persepsi keliru.

Menurutnya, rentang waktu yang cukup lama dengan denyut yang lebih dari 80 persen, yang dibakar bukan lemak, melainkan otot. Akibatnya, massa otot berkurang dan kualitas kesehatan juga ikut berkurang.

"Yang berkurang bukan body fat melainkan body mass. Itu sebenarnya modal kita yang harus dipertahankan," papar Ade. Itu sebabnya, olahraga tidak boleh terlalu lama, hendaknya sesuai kapasitas.


Sumber : Kompas.com — (GHS/dee)
Posting Komentar

Agen Allianz di Yogyakarta

hannysuzuki.com